Selasa, 02 Agustus 2016

Label:

Makam Keramat dan Angker di Kampung Cikondang

Kampung Cikondang terletak agak dekat dengan Kota Bandung. Tepatnya di desa Lamajang, kecamatan Pangalengan. Kampung ini masih memegang teguh adat-istiadat masyarakat pasundan, sehingga jangan heran bila arsitektur pemukiman penduduk di sana masih kuno memegang adat sunda.



Kampung yang kerap didatangi pelancong ini masih setia terhadap perayaan hari-hari besar seperti 1 Muharam. Tiap tanggal 1 Muharam, masyarakat kampung melakukan ritual penjamasan benda-benda pusaka. Konon acara ini sudah berlangsung selama lebih dari empat abad.

Para pelancong biasanya datang ke sana karena tertarik dengan kebudayaan Sunda yang masih lestari. Ada pula yang karena ingin merasakan suasana asri hutan desa. Namun ada pula yang datang ke sana dengan maksud untuk ziarah makam keramat, yakni: Makan Uyut Cikondang.

Mengapa ziarah harus dilakukan di makam sesepuh masyarakat yang telah lama meninggal itu? Tentu saja karena para peziarah memiliki hajat tersendiri. Mereka berharap mendapatkan berkah dari ruh Uyut Cikondang. Mereka yakin beliau akan memberi mereka kesuksesan, kejayaan hidup. Singkatnya dari praktek ziarah makam keramat itu adalah para peziarah itu sedang melakukan ritual pesugihan.

Meskipun kental dengan aktivitas yang terkesan agak gelap itu. Namun Kampung Cikondang diatur sedemikian rupa oleh masyarakat adat sana. Adalah Abah Anom yang menjabat sebagai kepala adat di Kampung Cikodang. Tiap pelancong dan peziarah harus datang sowan ke rumah beliau sebelum masuk lebih jauh ke dalam hutan atau makam keramat. Beliau memang bertindak sebagai juru kunci.

Ada satu keunikan di Kampung Cikondang, bahwa tiap pengunjung dilarang untuk mengambil sesuatu apapun dari sana bahkan termasuk buah-buahan yang masih di pohon maupun yang sudah jatuh. Aturan ini sudah menjadi pakem yang otomatis ditaati oleh para pengunjung.

Terdapat mitos di kalangan warga lokal sana bahwa di tengah hutan desa yang mistis itu, terdapat tanah lapang yang amat luas, bagai lapangan sepak bola saja. Sayangnya tidak semua orang bisa melihat lapangan ini. Warga Kampung Cikondang menganggap alun-alun atau lapangan itu sebagai tempat untuk berkumpulnya para leluhur Cikondang, termasuk Uyut Cikondang yang dijadikan messias pesugihan itu.

0 komentar:

Posting Komentar

© 2015 Terseram. All rights resevered. Designed by Templateism. Modified by Terseram