Jumat, 23 Oktober 2015

Label:

Cerita Hantu Jembatan Pasupati : Pocong Berdarah

Kisah menyeramkan ini terjadi kepada sekelompok remaja yang baru saja merayakan kelulusan di sekolahnya. Sialnya di hari kelulusannya, mereka malah bertemu dengan hantu di jembatan Pasupati Bandung. Berikut ceritanya:

Sore itu saya sedang bersama teman-teman masih merayakan kelulusan sekolah kami. Saya, Ami, Mawar, Riska, Aden, dan Kiki masih duduk-duduk di depan sekolah. Kami sangat asyik bercanda, sambil membicarakan tentang rencana kuliah kedepannya.

"Ndra, kita jalan-jalan yuk, bosen nih di sekolah terus. Jarang-jarang kan kita jalan-jalan pakai baju sekolah, nanti malam."

Saya mengangguk dan berkata, "Gimana kalau kalian malam ini tidur di rumah saya aja. Jadi, sore ini, kita jalan sambil anterin kalian ke rumah masing-masing buat ambil pakaian. Terus ke rumah saya, setuju?"

Jawab mereka  bersamaan "Setuju".


Satu per satu saya mengantar teman, sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dalam perjalanan kami memutuskan makan malam terlebih dahulu. Dan hingga jam 12 malam kami baru selesai dari tempat makan.

Malam itu, Bandung sedang hujan lebat. Karena hari sudah larut malam, kami terus melanjutkan perjalanan ke rumah. Senda gurau kami membuat suasana di dalam mobil ramai.

Ketika melewati jembatan fly over dari arah Balubur, lampu sorot mobilku tanpa sengaja menerangi pinggiran Pasupati. Suasana di dalam mobil yang tadinya ramai oleh obrolan kami, tiba-tiba hening. Ketika itu semuanya memperhatikan seseorang yang melambaikan tangan ke arah mobil kami.

Terlihat seorang lelaki dengan motor di sampingnya berdiri di samping jalan kehujanan. Lelaki yang masih muda itu berdiri sambil melambaikan tangannya, seakan meminta kami untuk menepikan mobil ke arahnya.

"Jangan ah, lo tuh gampang banget nolongin orang. Gimana kalau itu rampok?" Mawar berkatai.

"Tolongin aja, dari tampangnya sih kayak orang kesusahan." Bantah Ami.

"Terserah deh. Kalau ternyata itu beneran rampok, masalah buat kita" ketus Mawar.

"Tenang, kita tolong aja, gue bawa tongkat baseball di belakang mobil, jadi aman" Kataku.

"Tahu deh, yang anak taekwondo" imbuh Riska.

Saya menepikan mobil, dan memberi tanda lampu hazard.

Pemuda itu menghampiri mobilku. "Mbak, saya mau minta tolong. Motor saya mogok, boleh saya numpang?"

Ada yang aneh dengan lelaki ini, wajahnya pucat sekali, tatapan matanya kosong sangat kasihan sekali. Saya pun langsung menyuruh temanku untuk pindah ke belakang dan mempersilahkan orang itu naik mobil dibagian depan. Dalam hati saya berdoa, saya hanya ingin menolong.

Lelaki itu pun masuk dan duduk di sampingku. Badannya basah dan tampak kedinginan gemetaran. Saya pun menyalakan penghangat mobil. Saya melihat ke arah spion tengah, tampak teman-temanku memasang wajah tegang.

Suasana di mobil menjadi sangat kaku, kami yang tadinya tertawa-tawa, jadi diam seketika. Kami semua mencuri-curi pandang melihat orang itu yang masih tampak kedinginan. Saya tak tahu ada apa dengan lelaki ini, bagaimana dengan motornya, banyak pertanyaan di pikiranku yang hanya saya simpan, tidak sampai hati saya tanyakan. Saya sangat kasihan, terdengar bunyi menggigil dari giginya, terlihat dia benar-benar kedinginan.

Sampai di sekitar Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), laki-laki itu terlihat membaik dan tidak menggigil lagi. Dia hanya diam dengan tatapan kosong dengan pandangan lurus ke depan.

"Pak, Bapak mau ikut sampai mana? Mau saya antar?" Dia hanya diam sambil menunjuk ke arah depan.

Saya merasa ada sesuatu yang tidak beres. Saya melihat ke belakang, wajah teman-temanku masih tegang seperti yang tadi, salah satu dari mereka menggeleng. Sepertinya, temanku itu memberi kode kalau dia juga merasakan hal yang sama denganku.

Saya menghentikan mobil tiba-tiba. Lelaki yang duduk di sebelahku, kini sedang sibuk memegang darah yang berasal dari kepalanya.

"Pak, kepalanya kenapa?" Sambil ketakutan saya bertanya kepada lelaki itu. Saya mendengar suara ketakutan teman-temanku dari kursi belakang. Tampaknya, mereka mengetahui sebelum saya.

Lalu di tengah deras hujan, tiba-tiba dia melompat keluar dari dalam mobil menembus pintu mobil, dan langsung menghilang.

Terdengar suara tangisan Ami sangat ketakutan. Saya pun sangat takut, tidak percaya yang saya tolong tadi adalah hantu.

Saya berusaha tetap tenang dan tetap fokus menyetir. Sesampai di rumah, saya bersama teman-teman disambut oleh Ibu. Saya langsung memeluk ibu, dan tangisku pun pecah. Semuanya ikut menangis.

Malam itu menjadi malam yang sangat seram dan mencekam bagi kami. Dengan kondisi kami yang sudah lemas, saya membawa teman-temanku istirahat di kamar.

Saya menyesal dan meminta maaf karena saya yang memiliki ide untuk membawa laki-laki itu. "Maafin ya, saya nggak tahu kalau orang itu" saya belum sempat menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba bel rumah berbunyi. Saya menghentikan pembicaraan, dan bergegas untuk membuka pintu.

"Iya, tunggu sebentar." Mungkin Bang Ricky, tapi kok tidak kedengaran suara mobil? Saya memutar kunci dan membuka pintu Astaga Sesosok makhluk menyeramkan seperti pocong berdiri di depan pintu. Mukanya pucat, dan penuh darah.

Saya ingat wajah pocong ini, wajah lelaki tadi yang ikut ke mobilku dan melompat keluar dengan menembus mobil. Hantu itu berdiri berhadapan denganku, dari kepalanya terus mengeluarkan darah. Saya kaku, tidak dapat bergerak dan hanya diam terpaku, Pandanganku mulai kabur dan gelap, kemudian saya tidak ingat apa-apa lagi.

Pagi-pagi saya terbangun didalam kamar dan melihat teman-temanku masih tertidur. Saya masih ingat kejadian semalam, pengalaman mengerikan yang tak ingin terulang lagi. Saya segera mencari orangtuaku dan menceritakan kejadian semalam. Ibu langsung mendekapku erat, dia sangat memahami ketakutanku. Ibu bilang, dia kebingungan menemukanku tertidur di depan pintu.

Lalu Ibu dan Ayah membawaku ke kamar. Saya masih terbayang-bayang dengan sosok lelaki menyeramkan itu. Siapa dia sebenarnya dan mengapa dia menghantuiku.

Beberapa hari kemudian, misteri hantu di jembatan layang pasupati ini terjawab, saya akhirnya tahu bahwa laki-laki itu adalah orang yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan Flyover Pasupati.

0 komentar:

Posting Komentar

© 2015 Terseram. All rights resevered. Designed by Templateism. Modified by Terseram