Selasa, 14 Juli 2015

Label:

Cerita Zombie Pembunuh di Sekolah Tua

Kejadian bertemu dengan Zombie ini terjadi pada tanggal 13 Oktober tahun 2003. Kami berenam, Aku dan kelima temanku memberanikan diri untuk menguji nyali di sebuah sekolah tua yang telah ditinggalkan di pinggir kota semalaman.

Tanpa membawa senjata dan handphone, serta tidak juga membawa perlengkapan lainnya kecuali pakaian di punggung kami dan sebuah senter. Dan kami membuat peraturan untuk saling berpisah satu sama lain dan tidak boleh saling bertemu. Kami harus tinggal sendirian di tempat yang berbeda dalam bangunan tersebut pada jarak yang saling berjauhan.

Disaat kami memasuki gedung sekolah, kami saling memandang, mengangguk, dan berpisah dengan saling memegang senter kami masing-masing. Aku menoleh ke belakang sebentar, melihat lampu senter temanku yang mulai menghilang dalam kegelapan yang jauh.

Kalau saja aku mempercayai takhayul yang kami anggap aneh dari para tetangga, maka kita pun bisa aman dan selamat. Tetapi diriku dan sifat beraniku memutuskan untuk membuktikan tentang kebenaran Zombie di sekolah tua tersebut.


Tidak lama sebelum aku mencapai ujung salah satu lorong, Aku memutuskan untuk berhenti disebuah sudut ruangan sambil memegang senter di kedua tangan. Dan aku mulai menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku mulai memikirkan bagaimana untuk menertawakan tetanggaku bahwa tidak ada yang disebut "Orang Mati / Zombie " atau apalah itu yang mereka sebut ada di gedung ini... yang aku dan teman-temanku semua keluar dalam keadaan hidup dan masih baik, dan tidak ada orang lain selain kami berada di gedung itu sepanjang malam. Aku tertawa memikirkan hal itu.

Kemudian, aku mendengar teriakan yang sangat keras, jeritan yang menyiksa. Aku pun yakin itu adalah suara dari salah satu temanku dari kejauhan.... Tapi sepertinya tak terlalu jauh. Dalam situasi seperti ini, biasanya orang akan beranjak dan pergi untuk menyelamatkannya.

Namun aku tidak melakukan itu. Aku berpikir temannya hanya ingin menakut-nakutiku saja...

"Ha! Mereka pikir mereka bermain-main dengan siapa? Tidak ada yang bisa menipuku!", pikirku sambil tersenyum.

Saat aku mengingat waktu itu, aku sangat menyesal tidak berlari ke arah jeritan itu... Mungkin mereka pun bisa selamat.

...........

THUNK shfffffff

"Apa??"

THUNK shfffff THUNK shfffff THUNK shffff THUNK shffffff

...........

Salah satu temanku yang lain lagi, tidak diragukan lagi di pikiranku. Mencoba untuk menakutiku lagi. Membuat suara-suara mengerikan untuk membuatku "gemetaran" dengan mendekatiku.

...........

THUNK shffffff THUNK shfffff THUNK shffffff THUNK shfffffff THUNK shfffffff

Saat itulah aku menyadari salah satu peraturan yang kubuat.... Tidak boleh bertemu satu sama lain.

"Mereka menyerah begitu saja? Atau mereka mencoba membuatku keluar dari gedung ini?"

Kemudian aku mematikan senterku dan hendak menakut-nakuti mereka sebagai hukuman. Aku bersembunyi ke belakang loker, dan mengintip ke luar dari dalam loker tersebut. Kemduain Aku akan melompat keluar dari belakang dan menakut-nakuti mereka. Aku terkekeh diam-diam dalam hati, mataku akhirnya menyesuaikan diri dengan kegelapan. Aku melihat bayangan mulai mendekat, perlahan tapi pasti.

..........

THUNK shfffff THUNK shffff THUNK shffff

"Ayo. Mendekatlah. Rasakan nanti."

THUNK shffffff THUNK shffffff THUNK shfffffffff THUNK shfffff

.........

Aku terdiam, jantungku hampir berhenti berdetak. Sosok itu lebih dekat sekarang... tetapi lebih besar dari temanku. Itu pasti 6.... Tidak! sekitar 7 kaki. Itu besar, seperti pria berotot. Semakin jelas dan lebih jelas. Dia bukan salah satu temanku. Bukan.

THUNK shffffff THUNK shffffff THUNK shffffff THUNK shfffff THUNK shfffffff

Saat dia mendekat, aku melihat sesuatu yang besar diseret olehnya. Sesuatu..... berukuran manusia.

"Oh tidak... Ya Tuhan... Selamatkan aku... Ya Tuhan..."

THUNK shfffff THUNK shfffff THUNK THUNK

Benda ini... sangat besar... sesuatu yang berotot dengan berlumuran darah perban membungkus erat di kepalanya. Satu-satunya yang terlihat adalah matanya.... Mengerikan, mata kuning yang terlihat seperti predator mematikan. Tubuhnya... Sepenuhnya tertutup dalam luka menjijikkan, yang hampir menutupi kulit hijau-kelabunya. Itu tubuh manusia ... tapi aku tahu ..... ini bukan manusia!


WHAM!!!!

Aku menunduk dan menutup mulutku dengan tanganku agar tidak bersuara. Aku tidak ingin melihat.... tetapi kepalaku serasa bergerak sendiri ingin melihatnya.

Aku menahan teriakanku…. Melihat kondisi temanku…  Aku tahu dari pakaian bernoda darah nya. Kedua lengannya berputar di arah yang berbeda, dan yang lebih buruk lagi…. Wajahnya! Benar-benar tak berbentuk lagi. Dan kepalanya terputar, seolah-olah telah terputar 360 derajat.

Air mata ketakutan yang luar biasa mengalir dari mataku. Monster itu… Telah membunuhnya… Dan ia melemparnya ke lantai di depannya… Tepatnya di sebelahku.

THUNK THUNK THUNK THUNK THUNK THUNK

Aku memandang ke arah Zombie tersebut. Dia berjalan pergi. Perlahan, tapi aku tahu bahwa dia akan pergi ke arah yang berlawanan. Aku menunggu sampai dia pergi dari pandanganku, agar aku dapat bergerak lagi.

“Aku harus mencari yang lainnya… Semoga mereka tidak tertangkap…”

Dalam perjalanan Aku melihat 4 temanku yang sekarat di tangan monster itu. Jadi diam-diam, aku memutar balik dan mencari jalan lain.

Butuh beberapa saat, tapi akhirnya aku berhasil mencapai lorong sempit, yang tampaknya aku ingat salah satu temanku menghilang juga disana. Aku berjalan cepat menyusuri lorong.......

--Bau busuk. Itu mengerikan, bau daging mentah ......--

Dan.... aku melihatnya! Sisa-sisa bagian tubuh teman-temanku… berceceran di mana-mana ...... rata seperti kue dadar. Langit-langit ..... dinding ..... lantai. Berlumuran darah dan daging manusia.

Tanpa pikir panjang, aku menjerit ketakutan, jatuh terbaring, sepatu putihku berlumuran darah teman-temanku. Aku bergegas pergi, menjauh dari pemandangan yang mengerikan. Kakiku tersandung, lalu aku pun berbalik.

Dia tepat berada di belakangku…. Meraung seperti serigala yang kelaparan, mata kuningnya tertuju padaku. Aku hampir berhenti bernafas.

Perlahan-lahan, tangan kanannya meraih punggungnya dan mengambil sesuatu ..... sesuatu yang besar.

Dan apa yang kulihat… Pisau daging setinggi 6 kaki, lebih tajam dari apa pun yang pernah kulihat. Dilumuri oleh banyak darah yang menetes.

Dia mengangkat pisau raksasa itu dengan kedua tangannya di atas kepala dan mengayunnya turun dengan kekuatan yang besar. Tiba-tiba aku bergerak reflex, aku menghindar ke samping, mendengar suara lantai terpotong. Tanpa pikir panjang, aku berlari. Secepat dan sekuat yang kubisa.

“AKU HARUS KELUAR!!! YA TUHAN, AKU HARUS KELUAR DARI SINI!!!”

Pintu demi pintu, aku berhenti dan mencoba untuk membukanya. Namun setiap aku mendobrak pintu, pintu telah terkunci rapat. Dan setiap kali aku berhenti, aku bisa mendengar suara keras, langkah lambat yang berada di belakangku.... Semakin dekat! Jadi aku terus berlari. Tidak berhenti, tidak ada istirahat. Aku tidak tahan lagi.

Dia akan MEMBUNUHKU!

Akhirnya aku menemukannya. PINTU KELUAR! AKHIRNYA AKU MENEMUKANNYA! Aku tersandung, melompat digagang pintu, tertawa tak terkendali.

“Akhirnya aku bebas! TERIMA KASIH TUHAN!!!”

KACHICKACHICK

“Apa? Tidak… TIDAK TIDAK TIDAK TIDAK, ini tidak benar!!! Ini tidak…”

Aku melihat Pisau daging yang tajam dan besar itu telah menembus dadaku.

“Ti… Tidak! Bagaimana bisa?... Padahal aku sudah begitu dekat! Padahal…”

……………………………

Laporan Polisi (20 Oktober, 2003):

“Setelah lama mencari, lima mayat siswa SMA yang hilang akhirnya ditemukan di sekolah yang tak terurus sekitar jam 7 pagi".

Setiap siswa disembelih dan dibantai habis-habisan.

Mahasiswa keenam masih belum ditemukan...

0 komentar:

Posting Komentar

© 2015 Terseram. All rights resevered. Designed by Templateism. Modified by Terseram