Selasa, 10 Februari 2015

Label:

Cerita Permainan Jelangkung Pemanggil Hantu dan Fakta Sejarahnya

Mungkin sudah banyak yang mengetahui tentang Jelangkung. Jelangkung ini memang sudah terkenal dan tersebar luas di masyarakat sebagai permainan untuk memanggil arwah atau roh. Biasanya arwah yang dipanggil ini dapat diajak berkomunikasi menggunakan alat tulis yang dipasang pada boneka Jelangkung. Permainan jelangkung ini sudah menjadi mainan yang sering dibicarakan dan bahkan sudah sering diangkat ke layar lebar dalam berbagai film horror.

Permainan yang melibatkan makhluk gaib masih memberi tantangan tersendiri untuk diuji kebenarannya. Berikut ini adalah Cerita dan Fakta Permainan Jelangkung yang beredar dimasyarakat sebagai permainan pemanggil hantu.

Jelangkung adalah permainan tradisional memanggil arwah atau roh masuk ke dalam media tertentu. Biasanya Jelangkung berbentuk boneka dengan batok kelapa untuk kepalanya. Boneka Jelangkung diberi pakaian dan alat tulis, media berupa batang pisang, jangka, koin dan sebagainya.


Ada mantra khusus pemanggil jelangkung yang harus diucapkan secara berulang-ulang. Jika mantra ini berhasil, maka boneka Jelangkung akan bergerak dengan sendirinya.

Mantra Jelangkung :
"Jelangkung, jelangkung, di sini ada pesta kecil-kecilan, datang tak dijemput, pulang tak diantar"


Kisah Pengalaman Bermain Jelangkung

Seorang warga Menteng Jakarta Pusat yang tidak ingin disebutkan namanya menceritakan pengalamannya dalam memainkan permainan Jelangkung.

“Ini bukan sekedar cerita orang tetapi ini salah satu pengalaman hidup yang saya lakukan.  Suatu malam sehabis mengaji saya dan kawan-kawan, waktu itu kami berlima, sedang berkumpul di sebuah tanah lapang di dekat rumah guru ngaji saya, lalu ada kawan yang punya ide main Jelangkung.  Kontan saja semua tertarik dan segera mengumpulkan barang-barang peralatan dapur, ranting, tali, kertas dan pensil.  Dalam waktu singkat semua peralatan dirangkai dan sudah siap untuk dimainkan.  Namun ketika semua sudah siap, kawan-kawan tidak ada yang berani memegang peralatan tersebut dan akhirnya saya yang jadi pemegang peralatan itu dan kami berlima membaca mantera untuk memanggil Jelangkung.  Setalah mantera kami baca tujuh kali, Jelangkung datang.  Peralatan yang saya bawa terasa lebih berat dan pensil menunjuk ke kertas”

“setelah Jelangkung datang saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada Jelangkung dan dia bisa menjawab dengan menggerakan pensil untuk menulis di kertas yang sudah tersedia”.

Ditanya tentang pertanyaan apa yang diajukan waktu itu, “ya namanya juga kita masih anak-anak, yang kami tanyakan ya seputar siapa namanya, umur berapa, kapan matinya, mati dimana dan matinya karena apa. Yang datang waktu itu namanya (disamarkan) yang meninggal karena dibunuh oleh perampok”.

Cerita tentang pertanyaan yang diajukan kepada Jelangkung memang beragam, mulai dari sekedar tanya identitas diri, tapi ada juga yang bertanya tentang nomor judi yang bakal keluar.

Asal Jelangkung

Mitos tentang Jelangkung kuat dugaan berasal dari sebuah kepercayaan bangsa China terhadap adanya kekuatan roh Poyang dan Moyang (bandingkan dengan sebutan: Nenek Moyang) yaitu 'Cay Lan Kung' dan 'Cay Lan Tse'. Sementara Untuk persoalan kepercayaan serupa itu, di Jawa dikenal istilah Ni Towong. Hal ini bisa dipandang sama disebabkan oleh kisah mitos dan kepercayaan yang menyelimuti keduanya tidak ada perbedaan.

'Cay Lan Kung' atau yang kita kenal sekarang dengan nama Jelangkung, di tempat asalanya (China) adalah sebuah ritual memanggil roh Poyang dan Moyang yang dipercaya berperan sebagai pelindung anak-anak. Roh Poyang dan Moyang itu dipanggil agar masuk ke sebuah boneka kayu yang tangannya dapat digerakkan. Pada ujung tangan boneka tersebut diikatkan sebuah alat tulis. Boneka kayu itu juga dihiasi dengan pakaian manusia, dikalungi kunci dan dihadapkan ke sebuah papan tulis. Apabila pada saat si boneka tersebut menjadi berat, yang menurut mereka menjadi pertanda bahwa boneka itu telah dirasuki roh, dan bergerak mengangguk sebagai pertanda setuju setelah ditanyakan siap tidaknya untuk ditanyai, jawaban-jawaban dari semua pertanyaan yang diajukan akan dituliskan oleh si roh yang merasuki boneka tersebut pada papan tulis yang disediakan.

Dengan latar belakang kepercayaan yang sama, di Jawa, ritual Ni Towoh adalah ritual pemanggilan roh serupa ritual Cay Lan Kung tadi. Sementara media yang digunakan untuk menampung roh yang dipanggilnya adalah lewat gayung-sibur penyauk air yang diiringi dengan nyalaan perapian. Sementara itu, kita mengenal bahwa pada jaman dulu gayung-sibur itu terbuat dari tempurung kelapa yang digagangi kayu. Dan itulah sebabnya kenapa pada perkembangan mitos Cay Lan Kung di Indonesia sekarang lebih dikenal dengan ritual pemanggilan roh lewat boneka berkepala tempurung kelapa yang didandani pakaian.

0 komentar:

Posting Komentar

© 2015 Terseram. All rights resevered. Designed by Templateism. Modified by Terseram