Sabtu, 10 Januari 2015

Label:

Fakta Tentang Dracula Menurut Hyphatia Cneajn

Kisah Dracula tentu saja sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di seluruh dunia. Dracula diceritakan sebagai seorang pria peminum darah manusia. Dracula juga dikisahkan takut akan bawang putih dan salib. Namun bagaimana kisah Dracula yang sebenarnya?

Dalam buku yang berjudul "Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib" buatan Hyphatia Cneajna, sosok Dracula dibahas secara detail. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Dracula adalah seorang pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul.

Dalam buku itu disebutkan bahwa Dracula lahir ketika peperangan sedang memanas antara Kerajaan Turki Ottoman (sebagai wakil Islam) dan Kerajaan Honggaria (sebagai wakil Kristen). Puncak dari peperangan itu adalah jatuhnya Konstantinopel (benteng Kristen) ke tangan Kerajaan Turki Ottoman.


Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib yang banyak melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Diperkirakan jumlah korban Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, hingga disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan dengan menusuk seseorang mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, hingga kepala.

"Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami." - Dikutip dari buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

"Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal." - Dikutip dari buku Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib

Menurut Hyphatia, kekejaman seperti yang diceritakan dalam buku yang ia buat tersebut selama ini disembunyikan oleh Barat. Pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang menjadi pendukung utama pasukan Salib tentu saja tidak mau tercoreng wajahnya. Mereka selalu saja mengungkap pembantaian Hilter dan Pol Pot, namun untuk kisah Dracula sendiri, mereka selalu menyembunyikannya. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya karena Dracula dianggap sebagai pahlawan dalam Perang Salib. Sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan.

Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah fiksi Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula dalam kisah fiksi yang dibuat tidak lepas dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya Dracula takut dengan kedua benda tersebut. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka (pahlawan dari pihak Islam) dan sekaligus untuk menunjukkan sisi superioritas mereka.

Pahlawan yang hendak dihilangkan namanya dari kisah yang sebebearnya yaitu Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Sultan Mehmed berhasil mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun Barat berusaha menyembunyikan hal ini. Barat menggembor-gemborkan bahwa merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku "Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib" karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar

© 2015 Terseram. All rights resevered. Designed by Templateism. Modified by Terseram